Selasa, 24 Juni 2008

10 RESEP SUKSES BANGSA JEPANG

1. KERJA KERAS
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras.
Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun,
sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika(1957 jam/tahun),
Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun),
dan Perancis (1680jam/tahun).
Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari,
sedangkan pegawai di negara lain memerlukan47 hari
untuk membuat mobil yang bernilai sama.
Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa
melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang.
Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan "agak memalukan" di Jepang,
dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk
"yangtidak dibutuhkan" oleh perusahaan.


2. MALU
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang.
Harakiri(bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi
ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran.
Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke
fenomena "mengundurkan diri" bagi para pejabat
(mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal
menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak
SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek
atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang
memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi
di belakangnya dengan memotong jalur di
tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila
mereka melanggar peraturan ataupun norma
yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. HIDUP HEMAT
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti
konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan.
Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat
terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket
pada sekitar jam 19:30.
Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa
supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya
pada waktu sekitar setengah jam sebelum
tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang
rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. LOYALITAS
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata
dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa,
sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah
pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai
pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan
hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian
mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core
business) perusahaan.

5. INOVASI
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam
meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang
diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan
Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony,
patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil
mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk
yang booming selama puluhan tahun adalah Akio

Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat
lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai
150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda
empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika.
Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. PANTANG MENYERAH
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan
pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang
menutup semua akses ke luar negeri,
Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner.
Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang
menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi
dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia .
Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah
Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana
terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki ,
disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan
adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak
habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun
industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir
tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih
mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi
kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi
tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete
Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda
dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori
dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai
diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).
Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

7. BUDAYA BACA
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta
listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun
dewasa sedang membaca buku atau koran.
Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha
untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA.
Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang
membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas
masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca
orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan
buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern.
Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam
beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. KERJASAMA KELOMPOK
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu
bersifat individualistik.
Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok
tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus
dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan
tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam
kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa "1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika,
hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang
professor Jepang yang berkelompok" .
Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan "rin-gi"
adalah ritual dalam kelompok.
Keputusan strategis harus dibicarakan dalam "rin-gi".

9. MANDIRI
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang
paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang.
Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento
(bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar
minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa
perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri.
Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir
sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua.
Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama
University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan
sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka "meminjam" uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. JAGA TRADISI
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan
tradisi dan budayanya.
Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan
hidup sampai saat ini.
Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda
naik sepeda di Jepang
dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah
yang minta maaf duluan.
Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata "tidak" untuk
apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang
Jepang karena "hai" belum
tentu "ya" bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset
penting di Jepang.

Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah,
tidak menyurutkan langkah
pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang
dijadikan lahan pertanian
mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif
lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian.
Pertanian Jepang merupakan salah
satu yang tertinggi di dunia.

Mungkin seperti itu 10 resep sukses yang bisa saya rangkumkan. Bangsa
Indonesia punya hampir semua
resep orang Jepang diatas, hanya mungkin kita belum mengasahnya dengan
baik. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan
bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang.
Orang Indonesia juga memenangkan berbagai award berlevel internasional.
Saya yakin ada faktor "non-teknis" yang membuat
Indonesia agak terpuruk dalam teknologi dan ekonomi. Mari kita bersama
mencari solusi untuk
berbagai permasalahan republik ini.
Dan terakhir kita harus tetap mau belajar dan menerima
kebaikan dari siapapun juga.

Oleh Romi Satria Wahono



Kamis, 06 September 2007

REFLEKSI

Senin, 3 September 2007-09-03

Setiap datang ke MMC bertemu pak Toha dan istrinya kami menamai Toha Gendut karena di SPA ada dua Toha yang satu kecil dan kurus yang satu gendut, selalu tema yang aktual adalah "kita ini kalau ditakdirkan kaya seharusnya sudah kaya umur kita sudah kepala 4, usaha kita punya, kita juga punya pekerjaan lain banyak ikhtiar sudah dikerjakan, tentunya pendapatan dari berbagai jurusan, tapi nyatanya masih seperti ini. Esok bisa jadi kita kaya atau seperti apalah itu semua tak pasti dan yang pasti adalah mati, karena mati tak melihat umur, berapa banyak orang mati muda dan masih hidup diumur tua. Oleh karena itu penting ikhtiar tetap jalan sebab hidup butuh macam-macam yang kadang tak bisa ditunda harus sekarang, jangan lupa pula bahwa kita pasti mati dan harus membawa bekal".


Menarik kalo bicara tentang perjuangan hidup di dunia maupun akherat, banyak sudah perjuangan saya rancang dan kerjakan. Berangakat sebagai staff pengajar di lembaga pendidikan swasta yang masih tumbuh berkembang, semuanya bisa terjadi ada dalam perhitungan saya waktu itu. Maka selain mengajar saya berpikir dan bertindak selaku wira usahawan , berbagai macam saya coba lakoni sampai komentar teman-teman banyak ragam ada yang bilang :
Pedagang Gujarat.

Tuhan itu bingung sama Pak Tomy bagaimana tidak hari ini jualan A besok B, padahal waktu jualan A berdoa minta laris selagi permintaan mau dikabuilkan jualan sudah ganti B.
Pak Tomi kaya "lonte " tidak setia pada satu, selalu ganti-ganti sekarang usaha ini esok itu lain hari ganti lagi.

Semua saya tanggapi dengan senyum bahkan ketawa karena lucu toh mereka semua berarti mencintai saya, karena mau berkomentar dan dari guyonan mereka malah sering menginspirasikan ide-ide bagus.

Saya berpikir profesi saya adalah sebagai pengajar dan mempunyai sampingan yaitu usaha-usaha riil, awal yang berlembaga dan milik sendiri bukan usaha bersama adalah wartel pada mei 1999. dari sinilah usaha saya mulai berbentuk. Usaha wartel ini bertempat di rumah jalan semeru sedogan awalnya menggunakan teras rumah, box kbu ditaruh diteras dan kasir diruang tamu, pada saat itu saya tak ada dana maka box dibuat dari tambal sulam, rangkanya dari glugu dan kaca beli baru untuk tutup dindinnya pake triplek bekas pintu yang sudak tak terpakai begitu pula rangka pintu pake kayu bekas. Waktu itu yang menjadikan empot-empotan adalah untuk membuat 1 box kbu memakai 2 tukang kayu pak maqrdi dan pak pur ngabean lor dengan tujuan agar cepat selesai dan bagus e sampai 10 hari belum selesai itu pun belum dicat dan pintu belum sempurna, kemudian saya stop karena keterlaluan, untuk penyelesaian saya suruh cleaning servis kantor orang temanggung untuk selsaikan, itupun memakan 2 hari karena harus memperbaiki pintu terlebih dahulu baru dicat.

Kemudian bertambah jualan pakaian mengulang cerita ketika masih mahasiswa, saya ingat betul berjualan batik pekalongan ambil dari anak pengusaha batik pekalongan yang kuliah di jogja dan kos di Blunyah. Ternyata usah ini tak berjalan lama karena sistemnya sangat beda kalo dulu kita tinggal ambil dan jual sekarang masih harus mikir biaya pengiriman dan marjin sedikit.

Agen tiket menjadi alternatif berikutnya melihat banyak orang telpon untuk mencari travel, bus, atau pesawat secara kebetulan pada saat itu saya diminta PT Surya Sarana Utama untuk memberi pelatihan komputer akuntansi, dari sini saya bisa melihat lebih jauh manajemen usaha riil terutama peragenan tiket . Berawal dari menginduk PT Surya Sarana Wisata saya bisa banyak kenal Agen tiket yang lain dan sampai sekarang running well hanya untuk pesawat masih belum on line masih menggunakan telpon dengan pertimbangan tempat tidak strategis dan permodalan. Alhamdulillah sudah mempunyai hubungan baik dengan beberapa kantor dan asrama juga perseorangan.

Laoundry berawal didatangi Istana laoundry meminta untukl menjadi agen penerima, yang datang waktu itu wiwid memakai kemeja putih celana hitam rapi. Ada cerita menarik ketika memasang papan nama laundry untuk pertama kalinya di konsul barat sisi utara sore dipasang pagi raib, mungkin diambil orang karena sekitar banya orang berprofesi tukang cuci jadi dianggap ancaman. Akhirnya papan diganti dan tidak hanya Istana tapi juga ditambah

Mahasiswa dikemudian tahun yaitu 4 tahun berikutnya papan diambil oleh pihak Istana sendiri karena permasalahan yang ada tak diselesaikan dengan baik. Wisha tiga kali kehilangan 2 celana panjang hitam kain, dan 1 kemeja planel gunung baju kenagan, Ada pula tertukarnya karpet dan yang paling heboh 4 stel baju celana bermerk mahal baru lagi hilang. Marah orang yang laundry wajar siapapun akan marah, saya serahkan semua kepada delivery tapi orangnya tetap salahkan saya sebagai penerima. Berulang kali kasus Bandung sebagai pemilik jika dijak menyelesaikan masalah tidak memdudukkan kita sebagai mitra tapi layaknya buruhnya kita malah kena marahnya, inilah sebab laoundry kemudian dikerjakan sendiri. Awalnya kita memakai tenaga Kati baru kemudian memakai mesin elektroluk hasil uang pinjaman p2pkm. Semakin banyaknya laoundry sekitar dan bahkan di ngabean wetan ada yang pasang tarif Rp.1.500 cuci dan seterika. Akan tetapi saya tetap ambil segmen menengah keatas.

Depot air minum tadinaya bernama Depot air minum isi ulang, keinginan ini berawal dari ketika saya mengantar mahasiswa Salemba school kuliah lapangan ke Pabrik Aqua di Mlangi di Wonosobo, dari pengaamatan saya berkesimpulan usaha ini bisa menjadi usaha rumahan. Sesampai di Jogja saya mencari informasi ternyata untuk Jakarta Surabaya usaha ini sudah marak Cuma Jogja masih sedikit. Dari beberapa peninjauan alat maupun tempat usah depot air minum dan secara kebetulan ketika di indogrosir melihat pameran Yamaha water purifier yang tidak ada penjaganya dan saya ambil kartu nama yanga ada. Sales saya hubungi heri namaya datang dan bercerita banyak, saya pilih merk Yamaha karena dari sisi performance paling meyakinkan, pabrikasi ada standar mutu juga karena saya orang pertama calon pemakai di jogja diberi potongan khusus. Akhirnya instalasi dipasang untuk rumahnya saya borongkan Manto dan instalasi mesin dari rejo makmur distributornya yang berkantor di semarang, bahkan karena yang pertama manajemen semarang meninjau langsung.

Promosi pertama lewat pamlet yang saya pasang sampai jauh ke Plosokuning Minomartani Gejayan , Dayu Bateng Baru, yang lain kebetulan saya mengajar di Gajahmada Informatika yang punya program asrama magang jepang saya suplay sampai 4 asrama plus kantor, jogja view, pabrik vulkanisir sido mulyo, pabrik furniture almi dayu, es geboy, alahmadulillah pada saat itu kemarau panjang jadi sangat laris sehingga break even point tak lebih satu tahun .

Kini dipilih lebih cenderung tunggu bola saja memang masih ada beberapa antar tapi meneruskan yang lama saja , karena kalau ingin omset naik butuh pegawai khusus dan apabila dihitung sungguh hanya memberi kesempatan orang berpenghasilan, sebenarnya ini sudah pas dengan keinginan saya untuk membuka kesempatan bagi mereka yang membutuhka dan menjadi amal jariyah seperti guru mengajarkan ilmu juga merupakan amal jariyah karena dipakai selamanya. Tapi ada pertimbangan khusus karena selama ini saya banyak dibantu bapak kalo tak ada kegiatan walau hanya seputar warung tapi sangat banyak membantu baik bagi saya maupun beliau sendiri. Dari saya tak harus mengupah orang pendapatan bisa digunakan yang lain dan bagi bapak ada aktifitas tidak terjadi kemandegan karena warung menjadi tempat untuk bersosialisasi sehingga bisa melihat dunia tidak hanya dari kotak kaca televisi saja.

Ketika terjadi booming penjualan voucher saya sempat mencermati keputusan untuk membuka maju mundur dengan berbagai pertimbangan lagi-lagi siapa yang akan jaga di warung dan menjualkan voucher tronik khususnya. Eksan anak papua keturunan Bugis rumah kelapa gading 2 pelanggan warung datang berbincang penjualan voucher sebenarnya saya ragu untuk melangkah tapi karena desakan dia akhirnya kerjasama di buka dia buka dan beli etalase, karena usaha baru tidak saya serahkan semua manajemen saya butuh paham betul berjalan enam bulan saya punya 20 down line, selama itu pula saya semakin paham liku-likunya dan saya sudah mempersipkan penyerahan manajemen kepada dia tapi akhirnya semua harus berakhir ketika adaya perselingkuhan dia sewaktu saya setor utuk bayar ke tempat agen kulakan dia tak tahu saya disana dia masuk terus mau urus pula dan tak sadar saya duduk disampingnya dia kaget dan cepat-cepat pergi tak selesaikan semua urusan. Selepas pergi saya tanya supri si penjaga agen dan dilihat dari data dia sudah satu minggu daftar, maka saya sudah putuskan berakhir sudah, walau pakai proses. Akhirnya semua saya tutup dan sampai sekarang masih ada yang belum bayar setor dan diapun akhirnya tutup pula karena modal yang akhirnya etalase dijual ke orang bugis.

Oh iya ada bisnis property kata orang sampai hari ini baru bisa menjualkan kontrakan rumah lumayan juga hasilnya, kebetulan dititipi rumah dewi orang pekalongan yang punya rumah di kelapa gading dua. Titipan itu diakhiri dia karena pengontrak terakhir meninggalkan masalah tiga bulan sebelum akhir kontrak sudah pergi smapai listrik diputus dan juga yang tak disangka untuk kumpul kebo. Siapa nyana sih waktu mau kontrak bilang masih keluarga dan ortunya sering datang pulangnya selalu pesan tiket di kita untuk Pakan baru, e tahunya kalau pas ortu dating lakinya tidur diluar kalo sudah pulang dia yang balik ke rumah kontrakkkan tadi. Nah pergi mereka ternya sudah selesai pacarannya jadi semua pergi, kena deh pemilik rumah jadi tak titip lagi.

Kalau tanah ada bisnis kecil maupun besar baru ramai di omongan belum ada satupun yang nyata tapi masih ada satu yang nggantung yaitu di Solo tak tau ujungnya bagaimana saya sih berharap sukses karena sudah tak sedikit biaya yang telah keluar. Keuntungan dari usaha ini baru pada semakin banyak relasi yang didapat.

Kalau bisnis dengan Pak Majid yaitu memborong perkakas orang mau pindahan kemudian kita jual kembali sudah berbilang tahun sejak dia sebagai penjaga di Salemba Csholl tak ada maslah, masalah baru timbul ketika dia pindah atua pulang ke Purworejo Mei dia pinjam uang untuk borong kayu untuk disetorkan ke pabrik ternyata sampai masuk september belum terbayar katanya uang dibawa kabur temannya.

Usaha – usaha ini saya punya harapan besar untuk bisa memberi kesempatan kepada mereka yang butuh pekerjaan karena belum atau tidak bisa membuka usaha sendiri, sehingga kebutuhan hidup secara ekonomi bisa terpenuhi, ini baru harapan karena sampai hari ini usaha – usaha belum membutuhkan tambhan sdm kalaupun dipaksakan sebenarnya bisa hanya perlu dihitung dampak lainnya, Walau sebenarnya ini tujuan utama saya karena ini sama dengan mebuka amal jariyah ketika kita sudah dikuburkan.


Minggu, 02 September 2007

catatan harian

Kamis, 30 Agustus 2007
Pukul 04.00
bangun qiyamul lail, sholat jamaah shubuh di masjid tadarus nyuapin ardi mandi

Pukul 06.00
antar mereka kesekolah dan ibunya ke kantor



Pulang kerumah mampir ke Warnet Pandawa Demangan dekat UII email lowongan sebagai travel coordinator di Phillip dan mangager program di Relief. Cuma sebentar abis Rp.3.000,00 lamaya karena harus pindah computer sebab berulang kali saya mau buka ketikan msword di flashdisk tak bisa jadinya lama dan saya kirim massage ke operator. Operator datang membantu tak bisa lalu temannya datang dia jawab bahwa ini open office yang gratis kalo pake ms office mahal dan barusan ada sweepping dari no 3 saya disuruh pindah no 8 disana sudah difasilitasi ms office, nah baru saya bisa bekerja kirim email selesai buka blogger dan ganti tempelate sebab ada tawaran langsunmg coba-coba. Selesai pulang mapir Jogja View ambil galon kosong dan sampai rumah mencari berkas-berkas untuk perpanjangan SIUPP dan TDP, ketemu semua yang diperlukan saya taruh di map plastic.

Kemudian aku beresi pesanan tiket dari dr. Tri Apriyani yang pesan lewat sms posisi beliau di Palu Sulawesi,

Pukul 08.30
Sholat dhuha ambil motor dan meluncur ke kanor perdagangan Sleman, ternyata sesampai di tempat kantor telah pindah, kantor lama jadi kantor informatika disana ketemu anak mak wir yang jadi pns disana dan ditunjukkan pindah seberang dikantor p2kp. Sampai tempat tanya satpam ditunjukkan masuk gedung lurus ada tangga turun kemudian belok kanan. Antrean tampak banyak sebab pegawainya hanya satu yang datang beruntung ada bu suprihatin yang mau bantu mengecek isian formulir dan lampiran yang harus disertakan. Ada kekurangan yaitu pengisian macam usaha kalo dulu cukup pokoknya sekarang harus disebutkan semua karena akan muncul di siupp, saya lengkapi, pas foto berwarna tak ada tapi hitam putih boleh, nah ini suruh buat neraca aku bikin pakai tulisan tangan dan asal tulis saja oleh bu suprihatin disuruh pasang meterei Rp 6.000 dan diandatangani. Semua lengkap formulir saya foto kopi dan di serahkan petugas pak Nugroho(?) yang sendirian tadi, sambil antre saya ambil brosur untuk dibaca dqn ketika mau saya bawa pulang dilarang katanya :"mase kan tinggal perpanjang jadi tak perlu brosur lagi dan sudah selesai , itu brosur selembarRp. 2.000,00" ya sudah brosur saya kembalikan. Selagi nunggu dapat telpon dari istri ada pesanan tiket, langsung digarap. Urusan siupp dan tdp berakhir jam satu sebelumnya bayar restribusu Rp. 25.000 untuk siupp dan Rp. 50,000,00 intuk tdp.

Sampai rumah meletakkan berkas-berkas sholat dhuhur jemput anak-anak pulang jam dua diperjalanan dapat telpon istri sekalian jemput. Anak-anak saya bawa jemput ibunya sampai rumah jam tiga.

Pukul03.00
Mandi sholat ashar dan berangkat mengajar di momicigako, kelas saya isi game karena materinya speaking. Sampai rumah jam setengah enam langsung ajak anak-anak ke masjid maghriban. Kemudian aku tadarus anak-anak makan malam bersama ibunya. Isya aku ke masjid langsung pengajian jumat kliwon di masjid. Jatah waktu itu bu ning karena rumahnya tak muat jadi pakai masjid.

Pukul 08.00
Pengajian saya buka kemudian Pak Narto memimpin bacaan kalimat thoyibah dan sholawat diteruskan tausiyah Pak Mulyono isinya tentang syukur dan mendidik anak. Mendengarkan pengajian saya menikmati snack, musyawarah malan ini tentang pengadaan penggandaan bacaan kalimah thoyibah dan sholawat, selesai samapi jam setengah sepuluh. Pulang omong sebentar dengan pak bambang dan bu ning, bu ning saya minta zakat malnya untuk selsaikan gapura masuk masjid, dianya tanya berapa biaya dan siap mau bicara dengan suaminya.

Sampai rumah warung di jaga bapak, saya tutup dan tidur. Alhamdilillah




Rabu, 29 Agustus 2007

Catatan harian

27 Agustus 2007

Rutinitas pulang jamaah subuh dari masjid membuka gorden warung dan kemudian tadarus, tak ada yang istimewa, hanya ini kebangetannya ternyata hari tanggal itu ulang tahun anak saya pertama Galuh, lahir 27 Agustus 1998 sekarang 27 Agustus 2007 jadi berumur 9 tahun. Ibunya bilang hari ini khan ulang tahun Galuh, abis tadarus Galuh aku cium selamat ultah. Memang sejak SD sudah tak ada lagi perayaan cukup waktu di TK itupun sebatas keluarga dan hanya dibelikan tart sederhana lah maksudnya.


Pulang jamaah maghrib bersama Galuh dan Ardi sampai rumah Ibu kasih sate ayam katanya buat ultah, hanya itulah akhirnya perayaannya makan sate dibelikan Utinya tapi itupun tak langsung dimakan karena ibunya lagi bikin mie karena kebetulan tak ada nasi malam itu. Agar anak tak kecewa saya suruh makan satenya digado saja.

28 Agustus 2008

Magriban bersama Galuh dan Ardi ke masjid yang adzan suara pak Muhyidin dan saya iqomah imam pak Muhyidin sehabis sholat maghrib beliau langsung naik mimbar memberi penjelasan adanya gerhana bulan petang itu sekitar pukul 17.35 yang menurut tuntunan di sunatkan bahkan sunat muakad untuk sholat gerhana dan tiap rokaat dua al fatehah akhirnya jamaah solat gerhana.

Pulang dari masjid bersama pak suhar dan pak yanto lihat di rumah pak dukuh banyak orang ternyata ada sedekahan ruwah. Sampai rumah saya Tanya ibu tak buat jadi tidak ikut ruwahan. Sebenarnya acara itu sudah hilang esensinya sebab hanya bawa makanan datang diberi doa modin kemudian dibawa pulang lagi jadi mana esensi sedekahnya kalau peringatannya masih bisa dikatakan ada sebab pak narto sebagaoi modin biasanya bicara banyak menegenai perihal hajatannya baru doa dibaca

Malamnya ronda seperti biasa pukul sepuluh pak Erdanuri pasti sudah datang ngampiri ngobrol sebentar setengah sebelas keliling ambil jimpitan bersama wisa dan pak sayuno dan ngepos disana sudah ada pak dukuh. Sambil terkantuk-kantuk ndengerin pak pur yang biasanya pandai mehangatkan suasana dengan topik topik nya memang tak ada remi kebetulan anggotanya banyak yang tak suka jadi mereka yang hobi ngikutin.



Senin, 30 Juli 2007

DEPOT AIR MINUM

Tahun 2001 pada saat saya sebagai staff pengajar di Salemba School Yogtakarta diminta untuk mendampingi mahasiswa untuk study tour di Pabrik Aqua Mlangi Wonosobo. Dari sejak awal masuk pabrik terlebih setelah mendengar penjelasan dari staf aqua kususnya di bidang produksi yaitu proses dari raw material hingg a finishing, saya berkeyakinan bahwa usaha air mineral (nama pada saat iti) ini busa dijadilan usaha home industri.


Sekembalinya dari study tour saya berburu informasi tentang produksi air mineral dan akhirnya saya dapatkan ternyata di Jakarta dan Surabaya sudah ada dan sydah tren hanya Jogja yang tertinggal. Bersamaan pemikiran saya dfi Jogja ternyata sudah sedang bantayk yang berpikir serupa dapat dilihat tahun ity awal marakmya depot air minym isi ulang diawali alat dari amway ukyran rumaj tangga di buat sedemikian rupa untuk dibisniskan.


Akhirnya hasil perburuan saya mantap dengan water purifier produk yamaha dan saya pengguna pertama di yogya dengan distributor rejo makmur semarang.